Data Science Dalam Percintaan

By: Tommy Wijaya   |   February 13th, 2018

Valentine’s day — Hari yang menyenangkan bagi yang sudah memiliki pasangan. Bagi yang belum memiliki pasangan, setidaknya pasti memiliki orang yang disayang. Menurut pendapat umum, kasih sayang atau kecocokan kedua orang tidak dapat diukur dengan angka. Pernahkah terbayang dalam pikiran kalian, kalau hal-hal tersebut ternyata dapat diukur dalam bentuk data?

data-pacaran

Dalam sebuah artikel dari Vogue, kita dapat menyimak sebuah kisah cinta seorang perempuan yang menerapkan ilmu data science ke dalam kehidupan romantisnya. Dalam cerita tersebut, Carrie Sun menggambarkan caranya memprediksi masa depan hubungannya dengan seorang pria dengan memperhitungkan hal-hal kecil yang dilakukan oleh pria tersebut. Untuk kencan pertama mereka, pria tersebut telat datang selama 12 menit. Kalau mereka sudah kencan sampai dengan 10 kali, Carrie berpikir bahwa pria tersebut akan mengakumulasi sebanyak 120 menit waktu yang terbuang – bukan sebuah pola yang baik.

Menurutnya, pacaran itu sendiri merupakan sebuah proses pengumpulan data. Dia menggunakan data yang dikumpulakn untuk membangun sebuah dataset, menganalisa dataset tersebut, dan membuat keputusan berdasarkan hasil analisa data tersebut.

Ya, mungkin kita tidak menyadarinya, tapi sebenarnya kita juga melakukan proses tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk segala hal dalam kehidupan sehari-hari mereka, termasuk pacaran, kita secara alamiah mengumpulkan data berdasarkan pengalaman yang kita lewati. Dari sana, kita menganalisa data tersebut untuk mempengaruhi tindakan kita selanjutnya. Kita belajar dari pengalaman; kita dapat melihat kesamaan antara pikiran manusia dan machine learning disini.

data-a-love-story

Dalam sebuah artikel lain dari Slate, kita dapat melihat sekilas intisari sebuah buku yang ditulis Amy Webb. Buku yang berjudul “Data, a love story: How I Gamed Online Dating To Meet My Match” itu menceritakan bagaimana seorang wanita menemukan kekasihnya melalui fitur online dating dan kemampuannya dalam data science. Setelah mencoba berkencan dengan banyak orang, Amy merasa kesulitan dalam menemukan pasangn yang tepat. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, Amy menuliskan kualitas-kualitas yang diinginkan oleh orangtuanya dan yang membuatnya senang. Dia kemudian membuat lagi sebuah tabel penilaian dan memberi nilai pada tiap kualitas yang dijumpainya dalam seorang pria. Menurutnya, calon suami yang tepat untuk dirinya harus mencapai sebuah nilai minimum yang sudah ditentukan.

Pastinya kita juga menilai calon pasangan berdasarkan kualitas yang kita cari dalam diri mereka. Hanya saja, kita pasti tidak pernah melakukan apa yang dilakukan oleh Amy dalam cerita tersebut – mengukur data secara kuantitatif. Setelah membaca artikel ini, maukah kalian menilai pasangan kalian menurut data kuantitatif? 😉

Sources:
http://www.slate.com/articles/double_x/doublex/2013/01/amy_webb_s_data_a_love_story_using_algorithms_and_charts_to_game_online.html
https://www.vogue.com/article/does-data-science-work-on-dating-love-story

TERTARIK UNTUK BELAJAR DATA SCIENCE?