Pengacara versus AI, siapa yang menang?

By: Prahariezka Arfienda   |   February 27th, 2018

Bagaimana jadinya apabila sekelompok pengacara berpengalaman, melawan artificial intelligence dalam menganalisis puluhan dokumen hukum? Siapa yang jadi juaranya?

LawGeex, startup penyedia platform AI untuk menganalisis dokumen hukum asal Amerika Serikat, baru-baru ini mengadakan sebuah studi. Studi yang melibatkan sejumlah profesor hukum dari Stanford University, Duke University School of Law, dan University of Southern California ini dilakukan untuk menguji kemampuan teknologi LawGeex dalam meninjau dokumen hukum.

Dua puluh orang pengacara berpengalaman berkompetisi melawan AI milik LawGeex yang berusia tiga tahun. Dalam waktu empat jam, mereka harus menganalisis lima non-disclosure agreements serta 30 isu legal lainnya, termasuk arbitrasi dan ganti rugi.

Hasilnya, AI buatan LawGeex menang tipis. Dari segi akurasi, tim pengacara memiliki rata-rata sebesar 85 persen, sementara LawGeex memiliki rata-rata akurasi sebesar 95 persen.

Bahkan, dalam proses identifikasi salah satu kontrak, tingkat akurasi LawGeex mencapai 100 persen, sementara akurasi yang didapatkan oleh tim pengacara “hanya” sebesar 97 persen.

Dari segi waktu, AI terbukti dapat menyelesaikan tugas dalam waktu yang jauh lebih cepat. Tim pengacara rata-rata membutuhkan waktu sebanyak 92 menit. Sementara itu, LawGeex bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan 26 detik saja.

Untuk memiliki kemampuan yang bisa dibilang melebihi manusia, LawGeex melatih algoritma mereka dengan intensif. Mereka melatih AI dengan puluhan ribu kontrak atau perjanjian, dan memanfaatkan teknologi machine learning dan deep learning khusus.

Walaupun memiliki tingkat akurasi dan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan bisa melampaui manusia, namun AI tidak akan bisa sepenuhnya menggantikan manusia. Jadi, keberadaan AI sebetulnya tidak perlu dianggap sebagai ancaman yang akan mencuri karier kita.

Mendukung hal tersebut, laporan dari LawGeex mengklaim, “orang-orang akan terkejut saat mengetahui bahwa AI dapat bekerja jauh lebih cepat dibandingkan pengacara dalam beberapa tugas tertentu.

Akan tetapi, secara umum, mesin tidak dapat menyaingi kemampuan berpikir manusia dalam mengerjakan sejumlah aktivitas hukum yang bersifat fundamental.”

Belajar dari studi kasus yang dilakukan oleh LawGeex, AI atau robot justru bisa membantu pekerjaan manusia menjadi lebih cepat. Asalkan, kita dapat memanfaatkan AI secara cerdas dan tahu bagian apa saja yang perlu diotomasi, sehingga pekerjaan kita bisa menjadi lebih efisien.

Ingin tahu bagaimana caranya memanfaatkan AI atau machine learning untuk membantu pekerjaan kamu? Algorit.ma sudah membuka pendaftaran Data Science Academy angkatan kedua! Klik tautan di bawah ini untuk mendaftar: