Bagaimana Data Science Mengubah Masa Depan Health Technology

By Prahariezka Arfienda   |   August 8, 2018

Ada beberapa pro dan kontra tentang pemanfaatan data science di bidang kesehatan. Di satu sisi, sebagian orang beranggapan bahwa health technology yang memanfaatkan data science atau machine learning berpotensi menimbulkan permasalahan baru. Dari mulai penyalahgunaan data pasien hingga dokter atau perawat yang tergantikan oleh mesin.

Dalam buku berjudul Industries of the Future, Alec Ross menyebutkan adanya 174 kasus cedera dan 71 kematian yang melibatkan pembedahan robotik. Angka tersebut didapatkannya dari sebuah laporna dalam The Journal for Healthcare Quality.

Namun, penggunaan data Science di ranah health technology juga rupanya memberikan dampak positif. Seperti membantu pencegahan dini terhadap berbagai penyakit, mendeteksi risiko fraud asuransi kesehatan, bisa memberikan data pasien yang lebih akurat, dan masih banyak lagi.

Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan data science di ranah health technology.

1. Prediksi Flu menggunakan analisis Big Data

Jeffrey Shaman, Associate Professor di bidang ilmu kesehatan lingkungan di Mailman School of Public Health, Columbia University, menemukan sebuah cara untuk memprediksi penyebaran influenza menggunakan analisis big data.

Visualisasi penyebaran virus influenza | Sumber gambar: CPID

Dalam beberapa tahun terakhir, Shaman mengembangkan sebuah sistem yang dapat memperkirakan waktu dan wilayah yang rentan penyebaran flu. Shaman menganalisis berbagai data dalam proses analisis tersebut, di antaranya membandingkan kejadian flu dengan ragam kondisi yang memungkinkan terjadinya penyebaran virus influenza.

Contoh hasil penelitian Shaman di antaranya, ada 60 persen peluang bahwa musim flu di sebuah area akan mencapai puncaknya dalam waktu 5 minggu. Selain itu, kelembapan udara ternyata merupakan satu dari sekian banyak faktor krusial dalam penyebaran influenza.

2. Bantu deteksi dan penanggulangan Endometriosis

Noémie Elhadad, Associate Professor untuk bidang Biomedical Informatics di Columbia University meluncurkan sebuah proyek crowdsourcing bernama Citizen Endo sekitar tahun 2016.

Proyek tersebut diluncurkan untuk melakukan peneliatian lebih jauh tentang penyakit Endometriosis. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan Phendo, sebuah aplikasi mobile yang digunakan untuk membantu peneliti dalam memantau dan memahami endometriosis.

Tampilan aplikasi Phendo

Hampir 3000 pasien endometriosis yang tersebar di 65 negara telah menggunakan aplikasi tersebut setiap harinya. Mereka mendokumentasikan berbagai hal, seperti rasa sakit di sekitar rahim, tingkat energi, mood, diet, aktivitas fisik, dan lain sebagainya.

Data-data tersebut kemudian akan tersimpan di komputer laboratorium tempat Elhadad dan tim penelitinya mengenalisis seperti apa perkembangan penyakit tersebut dan reaksinya pada beragam penderita.

3. Inovasi dalam pengobatan kanker

Andrea Califano, Founding Director dan Chair Department of Systems Biology di Columbia University melakukan pengamatan terhadap penyakit kanker dengan cara yang berbeda. Jika biasanya peneliti memfokuskan riset pada mutasi gen yang tidak wajar, Califano berusaha untuk mencari tahu bagaimana puluhan ribu protein yang bekerja di dalam sel tersebut tiba-tiba dapat melakukan pembelahan sel yang tidak terkendali.

Untuk melakukan hal tersebut, Califano membangun model matematika yang rumit agar dapat mengolah dan mendokumentasikan data aktivitas sel tersebut.

Yang dilakukan oleh tim kami mirip seperti kami mempreteli mobil yang rusak kemudian menyusunnya kembali satu per satu, dengan harapan agar kami dapat mencari tahu titik permasalahannya
– Andrea Califano

Dari hasil penelitian Califano, pengobatan untuk kanker bisa dimodifikasi sesuai dengan susunan protein dari sel kanker tersebut. Teknologi diagnosis Califano sudah digunakan untuk beberapa kasus dengan kondisi pasien yang sudah berada di stadium akhir.

Pengobatan berdasarkan hasil penelitian tersebut terbukti dapat menambah lama masa hidup pasien sepanjang enam bulan atau lebih, dan uji klinis tersebut sudah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

4. Penerjemah bahasa isyarat

EnableTalk di kompetisi Imagine Cup Microsoft 2012 | Sumber gambar: Silicon Republic

Pada tahun 2012 sekelompok mahasiswa asal Ukraina menciptakan sebuah sarung tangan bernama Enable Talk. Perangkat ini menggunakan sensor flex untuk membaca gerakan. Sensor tersebut terletak, yang nantinya dapat mendeteksi bahasa isyarat dan menkonversinya menjadi teks di smartphone dengan memanfaatkan Bluetooth.

5. Robot untuk mewakili siswa yang sakit

VGo Robot di Greenleaf Elementary School, Texas | Sumber gambar: Chron

Christian, salah satu siswa di Greenleaf Elementary School, Texas, didiagnosis menderita lymphoblastic leukemia akut saat usianya 12 tahun. Karena sistem kekebalan tubuhnya yang lemah dan perawatan kemoterapi yang harus dijalaninya, Christian kesulitan untuk hadir di kelas.

Sebuah perusahaan yang terletak di New Hampshire kemudian memberikan bantuan robot yang bernama VGo. VGo memiliki kamera yang terhubung dengan komputer yang dimiliki Christian di rumahnya. Jadi, VGo akan hadir di kelas dan “mewakili” Christian yang mengikuti kelas dari komputernya di rumah.


Apa saja yang perlu kamu kuasai di bidang health technology?

Apakah kamu tertarik untuk menciptakan inovasi di bidang health technology? Infografis berikut ini memuat beberapa skill yang perlu kamu miliki, beserta beberapa contoh kasus yang dapat kamu selesaikan dengan data science di bidang health technology.

Infografis oleh: Tommy Wijaya


Sudahkah kamu menguasai skill tersebut? Algoritma Data Science Academy memiliki serangkaian program yang akan membantu kamu menjadi data scientist dalam waktu 11 minggu.

Algoritma Data Science Academy akan dimulai pada tanggal 24 September 2018. Dapatkan diskon senilai Rp1.750.000 untuk pendaftaran sebelum tanggal 24 Agustus 2018.